Jumat, 20 Maret 2026

TULISAN POJOK

Proses Kreatif :
            
                

“ DUNIA KERJAKU ”

    Menceritakan proses kreatif tentu bukan pekerjaan mudah. Proses kreatif tetap pengalaman pribadi yang sangat pribadi sifatnya, sudah terumuskan atau belum...sulit diputuskan. Penulisan ini semata-mata berdasarkan kepentingan umum untuk mempunyai perbandingan agar mengurangi satu sudut pandang.
    
    Tahun 2003 usiaku 36, istriku mencuci baju dibelakang rumah. Dipangkuanku anakku usia 8 tahun dihadapan kami berdua berjejeran kurang lebih 30 lukisanku, aku katakan pada anakku “Lukisan ini semua,..besok akan jadi milikmu.” Anakku jawab   “ Masak ...Yah ?”. Matanya berbinar-binar senang karena  “akan datang“ mendapat sekian banyak gambar yang di pigora.
    Anakku belum mengerti bahwa saat itu  hatiku benar-benar menangis “putus asa”, Karena jejeran lukisan itu belum memberikan konstribusi yang berarti bagi keluargaku.Terus terang aku lebih mengutamakan kepentingan keluarga diatas kepentingan yang lainnya, terutama melukis. Kukatakan kepada anakku tentang pemberian lukisan ini kepadanya tidak lebih bahwa pekerjaan melukis ini bukan pekerjaan sia-sia. Butuh kerja keras, olah pikir, belum lagi menpertanyakan yang dicari, dijalani, untuk menemukan kebebasan, membebaskan temuan,..mengalami kekosongan, mempertanyakan kembali yang dicari demikian seterusnya. Aku masih mempercayainya sampai sekarang mungkin hanya ini yang bisa aku tinggalkan untuk dijejak oleh keluargaku di masa depan tentang keberadaanku.
    
    Kenangan ini masih terasa sampai sekarang,...masa baru 12 tahun aku menekuni dunia seni sudah terjerebab dalam  “keputusasan” apa tidak memalukan? tapi bagaimanapun jalan hidup yang telah ditentukan dan di tempuh saat itu…..buntu?
    
    Kubuka kembali di tahun 1987 ditaman tengah kota ada sanggar yang dihuni 2 orang pelukis. Salah satu dari pelukis itu agak aneh dalam membuat objek lukisan (saat itu aku sudah senang menggambar dengan mencontoh di majalah-majalah illustrasi,cover kaset ). Pelukis itu sangat menikmati sekali pekerjaannya. Aku pernah menunggu pelukis itu bekerja mulai dari kanvas kosong sampai lukisannya selesai . Perubahan demi perubahan yang dibuat pelukis itu sungguh “keajaiban”. Pulang dari sanggar itu (biasanya sore hari) dirumah terbayang pelukis itu bekerja, keanehan itu dalam mempermainkan  bentuk dan warna sungguh benar-benar menarik. Hal ini membawaku pada perenungan tentang melukis.Bahwasanya lukisan itu bisa dikembangkan sebebas-bebasnya tidak terhenti pada gambar yang dipindahkan ke kanvas persis aslinya. Maklum saja saat itu aku hanya mampu meniru gambar dari sampul–sampul kaset dan majalah, tentang pemahamam dari mana asal pemikiran seperti pada lukisan itu, Aku....nol besar. Tetap saja aku mempertanyakan gangguan itu.
    
    Peristiwa itu membawaku mengambil keputusan untuk sekolah senirupa. Saat itu aku tidak memperdulikan untuk sekolah ke IKIP Negeri atau ke Institut Seni Indonesia yang penting aku belajar melukis. Semangat ini membawaku diterima jadi mahasiswa IKIP Negeri Malang. Dikemudian hari aku baru mengetahui jurusan senirupa IKIP Malang lebih banyak materi pengajaran untuk menjadi guru senirupa daripada pelukis. Apa boleh buat, itulah memang semangat pribadi pada masanya. Jadi aku harus menambah porsi belajarku diluar jam kuliah seperti menemui pelukis-pelukis dikota ini.

    Selesai sekolah membawaku untuk belajar dan bekerja sambil belajar melukis. bidang pekerjaan yang aku pilih selalu berhubungan dengan bidang senirupa karena hanya itu yang aku bisa. Dunia kerja ini membawaku pada proyek pekerjaan yang dikerjakan oleh beberapa pelukis. Di salah satu proyek pekerjaan itu  aku mengenal seorang pelukis namanya TULANMORO (alm.) alumni LPKJ sekararang IKJ, aku jadi akrab dengannya karena pandangan-pandangan tentang dunia lukis begitu luas dan dalam. Apalagi aku saat itu lagi semangat-semangatnya melukis. Aku jadi sering memperlihatkan karya-karyaku dan memperbincangkan. Dia malah jarang membahas masalah teknisku, kalaupun dibahas sebatas visual (" teknis akan membaik dengan sendirinya bila kita rutin atau intensif berkarya katanya" ) konsep bagaimana kita terkondisi  “Intensif Berkarya“ (Tema, Gagasan, Wujud) ini yang menjadi perbincangan kita selama itu sampai Beliau tutup usia.

    Jadi makin seru saja aku mendalami bidang melukis ini perlu sekali aku kembangkan. Dan maaf saja, karena ini pengalaman yang sangat pribadi sifatnya tentu yang manis ditelan yang pahit dimuntahkan. justru karena mekanisme kreatifitas inilah yang menjamin bahwa karya seni selamanya manusiawi. Kekurangan, kekeliruan, dan kesalahan menjadi polyinterprestasi tersendiri membuat karya seni menjadi bermacam-macam kreasi artistiknya. Karena mekanisme kretifitas inilah yang bisa mengubah orang senang atau tidak, benci atau tidak. Sampai-sampai orang mencaci-maki, memujanya, semuanya tergantung dari tempaan pengalaman proses berkarya.

    Saat ini aku tinggal 16 Km ke Selatan kota Malang, Kecamatan pakisaji tepatnya. Daerah sepi berangin persawahan. Sepi menjadi modal bekerja dan mengembangkan diri. Ini belum sepenuhnya bisa aku lakukan (6 jam sehari aku masih ke kota, antar anakku sekolah). Tetapi aku menyakini karya seni menciptakan dirinya sendiri dan menempuh jalannya sendiri. Tempat baru dan suasana baru membawaku tenggelam dalam semangat proses kreatif            ( meskipun pemikiranya itu-itu saja ). Dimana aku melebur dengan ruang dan waktu yang aku namakan “Dunia Kerjaku“ atau apapun namanya. Suatu kondisi mengadung kebebasan yang padat, kemerdekaan yang mutlak. Dimana catatan harian, masalah keluarga, membangun eksistensi pribadi, mengagungkan sang pencipta kesediannya menjadi rasa syukur, aku tenggelam menghidupi sementara sang waktu berhenti bekerja seakan hidup di luar ruang dan waktu. Keadaan ini tak tergoyahkan oleh kritik, atau analisa, yang ada nikmat tanggelam dalam....keasyikan, kekhusukan. Suasana ini sifatnya sangat individual, di mana kebebasan pribadi yang padat melepaskan pribadi dari dunia luar, ia tidak bisa di jajah oleh sang waktu yang ada pelukis dan karyanya, melebur menjadi satu. Mungkin ini buat orang lain merupakan lelucon atau  pekerjaan iseng. Apa boleh buat tentang hal ini aku tidak memerlukan pengakuan orang lain.

    Saat penulisan ini aku terbayang teknologi saat ini bisa membuat proses kreatif lebih mudah diciptakan. Maka secara teoritis setiap orang mempunyai peluang untuk berkarya ini menjadikan hasil karya, tentang sesuatu yang muluk sebenarnya justru wajar-wajar saja tinggal faktor individu tersebut yang bisa membedakan dari teknologi, untuk menjadi Individu yang bertanggung jawab, disiplin, konsekuen, berkemauan, keberanian, dan kesadaran mau berproses tanpa harus diperintah. Setidaknya dengan mental seperti itu karya kreatif justru suatu keharusan. Semakin tinggi nilai karyanya sebenarnya semakin tinggi nilai daya sentaknya pada kesadaran, terhadap tanggung jawab, rasional maupun emosional.

    Demikian pengalamam kreatif sejauh aku alami, ini adalah sangat pribadi, sangat subyektif yang banyak kalanya tidak memerlukan logika. Kesimpulan-kesimpulan diatas hasil pengalamam subyektif hasilnya tetap subyektif. Kejujuran yang lahir dari penulisan



Pakisaji, Malang 23 April, 2006.




---------------------------------------------------------------------------------------



Sekilas Novel Grafis
oleh Maruto Septriono


Walter menatapi api dan menutur :
“ Berdiri didepan bola api….
noda darah menggumpal di dada
seperti peta dunia baru yang ganas.
Merasakan planet gelap berputar di telapak kaki.
Apa yang diketahui kucing sehingga mereka meraung 
seperti bayi di malam hari…
Narasi berlanjut :…
“ Eksistensi adalah acak tak ada pola..
kecuali yang kita khayalkan
setelah menatap sesuatu terlalu lama.
Tak ada makna….
kecuali yang kita pilih untuk dicangkokan
Bukan Tuhan yang membunuh anak – anak
Bukan nasib yang mencincang mereka
Atau .. Takdir yang menjadikan mereka makanan anjing…Tapi…Kita. Hanya kita

        Semua itu adalah adegan komik “Watchman “di bab 6 terbitan DC Comic novel grafis ini ditulis oleh Alan Moore digambar Dave Gibbons. Pertama terbit dalam satu buku lengkap dengan Memoar,kliping Koran ,laporan polisi dan profil psikologis. Dan…semua itu FIKTIF
Pada tahun 2005 novel grafis ini termasuk dalam daftar terbaru 100 novel terbaik abad 20 versi majalah TIME. Percaya atau tidak ,.. ini adalah komik superhero
Meskipun gambar dibuat penuh disiplin, dari Gibbons yang patut mendapat pujian, tak ada yang menampik bahwa novel grafis ini adalah buah pikiran dari Alan Moore

        Menulis tentang novel grafis tentu bukanlah pekerjaan mudah.Setiap orang juga punya sudut pandangan sendiri tentang itu. Penulisan ini semata-mata berdasarkan kepentingan umum untuk mempunyai perbadingan agar mengurangi ke satu sudut pandang.
Tentang Novel grafis masih tetap di awan- awan, sangat elite sifatnya. Lantaran istilahnya Novel Grafis mengandung kata Novel itu sudah terhormat begitu pula kata Grafis dengan memaknai kata Novel Grafis seakan anda memperoleh dua kehormatan.

        Istilah novel grafis ini muncul sekitar tahun 1978 dari karya Will Eisner judul karya “A contract with God”  meskipun dibantah oleh sejarawan komik AS RC. Harvey bahwasannya istilah novel grafis sudah ada sejak tahun 1960 an, tetapi public Amerika sudah terjalur menerima W.Eisner sebagai bapak novel grafis. Perdebatan dari istilah sampai difinisi tentang novel grafis sampai sekarang pun masih berlanjut.

        Bahkan ada yang meledek “ sudahlah pakai istilah komik, toh tak ada bedanya. Bukankah novel grafis memakai gambar, balon teks, layaknya komik.“
Sebagian ada yang berkata sambil memegang keningnya “ Bedanya dengan komik …novel grafis itu lebih panjang bisa sampai ratusan halaman.”
Sebagian ada yang sambil garuk-garuk nggak gatal menyebut “ Novel grafis sama saja seperti novel hanya saja……memakai bahasa grafis.”
Sebagian yang lain dengan semangatnya menyebut “ ada ambisi sastrawinya didalam..”
Atau seseorang dipojok dengan rokok tak pernah putus “…novel grafis lebih menekankan pada revolosi cara bercerita dan penataan panel yang lebih eksperimental ..”.

        Mana yang benar..? bila niatnya mencari pembakuan novel grafis tentu akan membuatnya terkungkung oleh definisi – definisi yang kaku. Saya rasa novel grafis akan jauh lebih berkembang tanpa batasan – batasan yang saklek.

        Itu obrolan tahun 2005 berawal dari pertanyaan …apa sih novel grafis ? mengapa harus novel grafis ? apa bedanya novel grafis dengan komik ?. Saat itu kita masih menggosipkan dan mengkhayalkan, sementara dunia di luar sana novel grafis sudah di produksi tebal – tebal, memakai kertas bagus- bagus , dengan gambar yang mengagumkan. Disini 2 atau 3 karya menyebutkan dirinya novel grafis, seperti judul “Blancan : Rindu Dendam “(jilid 1) karya Wisnoe Lee (1995 - ..), Beng Rahardian “Selamat Pagi Urbaz”

        Dengan perkembangan itu Novel Grafis dapat memberi kemungkinan – kemungkianan baru, bisa sebagai Roman sejarah, Revisioner superhero. Pictoram, underground, puisi, semiografi. Apalagi kini novel grafis telah mencapai critical mass.Tersedia segala macam jenis pembaca tua, muda, serius, humoris, pria, wanita, pencari seni, penggemar hiburan. Bila disadari bahwa format novel grafis adalah standard industri di banyak negara sejak lama Prancis, Belanda, Italia, Belgia, apalagi Jepang dan juga Indonesia.

        Pada tahun 2005 Frank Miller (komikus ) memberi pernyatan yang menggegerkan industri komik AS “ Masa depan komik bukanlah dalam (format) pamlet.” Miller mengkritik format komik tipis yang sudah 60 tahun jadi standar di AS. Wah..menarik bukankah standard komik kita sejak tahun 1950 s/d 1980 an adalah cerita panjang. Mungkinkah masa depan komik kita terletak pada format novel grafis..? barangkali Si Buta Dari Goa Hantu (Ganes TH ) menjawab “Amien …bro..Amien.”
         
        Kendati kita tak hirau dengan hiruk pikuk perdebatan definisi-definisi novel grafis di Amerika & Eropa. Komikus Indonesia secara tak langsung sudah menciptakan hal-hal mendasar novel grafis “Mahabarata” (1950) R.A Kosasi lebih pada sastra eposnya, disusul “Trilogi Sandhora”  (1971) karya Teguh Santosa dengan cara bercerita yang unik dan tehnik gambar yang experimental. Trilogi ini adalah fiksi mengambil cerita sejarah yang berlatar belakang penyerbuan Spanyol ke Filipina dan perang Diponogoro (1825–1830 ). Karya dari Wid.N.S bejudul “Kucing” (1981) genre novel grafis di luar superhero demikian pula karya Hasmi judul “Balada Laki-Laki Tanah Kapur” (1982) terispirasi dari puisi W.S. Rendra.

Tahun-tahun penting pejalanan komik ke novel grafis :

1954 – 
  Penerbit Melodia Bandung menerbitkan 2 komik epik karya R.A.
  Kosasi (Mahabarata) dan Johnlo (Raden Palasari). Kedua komik ini
  menjadi standard awal buku komik Indonesia.Sekaligus melahirkan      
  genre khas Indonesia : komik wayang bisa mencapai lebih dari 700   
  halaman.
  Di Amerika Federic Wertlam menerbitkan Seduction of Innocents.    
  Memaksa industri komik di Amerika membuat standard    
  selfsensorship teramat ketat, yang menempatkan komik sebagai
  bacaan anak-anak dan harus diawasi.

1968 – 
  Ganes TH menerbitkan Si Buta Dari Goa Hantu sebagai
  kebangkitan kedua industri komik Indonesia sekaligus mengawali
  trend komik silat yang berjaya sepanjang tahun 1970 an s/d 1980   
  an mirip komik manga di jepang.

1971 – 
  Teguh Santoso menerbitkan “ Mat Romeo “ bagian satu dari trilogy
  sandhora dan Menyebutnya dengan novel bergambar.
  Kenji Nakazawa menerbitkan “ Hadashi No Gen “ di Jepang   
  menjadi komik manga pertama yang diterjemahkan di Amerika

1986 – 
  Tahun penting bagi evolusi novel grafis maupun komik pada umunnya. Art Spiegelman     menerbitkan “ Maus vol 1 “ dalam bentuk Buku. Frank Miller menerbitkan mini seri “Dark   Night Returns” Alan Moore & Dave Gibbons menerbitkan maksi-seri “Watchman” Karya  Alan moore & Frank Miller dianggap merevisi genre superhero jadi lebih dewasa dan menjadi tonggak awal novel grafis menembus mainstream

1992 – 
    Maus vol II mendapat penghargaan khusus Pulitzer untuk sastra.  
    Ini mengejukan public luas akan potensi naratif komik dalam bentuk novel grafis ini

2002 – 
    Nilai industri novel grafis di Amerika menembus angka lebih dari
    100 juta dolar dan terus meningkat, format novel grafis telah mencapai critical mass

2005 – 
    Dalam 100 novel terbaik sepanjang masa versi TIME, terdapat 10 judul novel Grafis.

Kembali ke…..Ibu Pertiwi….
Melihat pekembangan komik kita dalam kondisi kekinian setelah era kejayaannya tahun 1970 an s/d 80 an dan kemudian surut kondisinya. Meskipun terdengar letupan kecil di jogya tahun 1990 an dengan kelompok-kelompok kecil “ Daging Tumbuh”, “Apotik Komik”, “Taring Padi” dll. Berniat menjadikan jogya sebagai kota komik (mestinya kota Malang karena gudang komikus ada disini). Gerakan mereka ini lebih kepada seni rupa modern yang istilahnya kontemporer mendasarkan komik sebagai bahasa visual untuk gerakan seni rupa baru mereka.Tetapi gerakan ini tidak sampai kepada industri dan media ruang public yang lebih luas.tokoh gerakan ini pun sekarang jadi perupa yang handal.( Samuel indra atma,Eko Nugroho, dll)

Kelesuan komik kita diakibatkan
  • Niatan komikus kita untuk mencoba melahirkan ciptaan baru dan menperjuangkan karyanya semisal ditawarkan kepada penerbit kalaupun ditolak tidak mencoba lagi dengan karya baru ke beberapa penerbit yang lain, sering penolakan dari penerbit dianggap kegagalan bahkan sebagian besar beralih ke profesi lain pelukis, periklanan, dll.
  • Penerbit pun menjadi pemalas dan tidak punya nyali mereka lebih tertarik menerbitkan dan menampung komik dari luar (AS, Jepang, Eropa) karena harganya ¾ lebih murah dari komik lokal dan pasti lebih mendatangkan keuntungan karena komik luar itu sudah di tayangkan di berbagai media kita. Kalaupun ada komik lokal yang laku di pasaran, cetak ulangnya pun tersendat-sendat.
  • Media ruang publik pun tidak pernah meliput atau mempolerkan karya-karya mereka apalagi memberi penghargaan kepada komikus - komikus kita meskipun karya-karya mereka pernah menghiasi media publik.

Mungkin saya terlalu ceroboh dan naïf untuk menyatakan 3 hal itu (Komikus, Penerbit, Media public) yang menyebabkan kita tidak bisa menikmati kreasi dan kreatif karya-karya komikus kita sendiri

Dan selalu timbul pertanyaan solusinya apa? Jalan keluarnya apa? Apa kita menyerah saja dengan nasib? Barangkali “Mahesa Rani” (karya Teguh santosa) akan menjawab “ Ya..nggak-lah..ya! ”

Seperti saya tulis diawal, ini hanya dari sudut pandang yang subjektif untuk supaya menjadi objektif harus dipertemukan dari sudut pandang yang lain. Saya percaya dengan generasi muda dan komunitas-komunitasnya apalagi di tunjang dengan kemajuan tehnologi.Pergerakan mereka saat ini patut dicermati
Waktu dan tenaga mereka lebih panjang, bila hal ini (novel gafis) jadi alat tawar kepada mereka tentu akan membuat perbedaan ke depan semakin tinggi nilai tawar karyanya semakin tinggi nilai sentaknya pada kesadaran, tanggung jawab, rasional maupun emosianal.

Saat penulisan ini aku teringat di usia 8 -9 tahunan duduk diruangan 2 x 3 meter penuh dengan benda mainan robot, senjata mainan, boneka, poster atau gambar fantasi dan buku-buku komik dari berbagai macam versi. Ruangan yang penuh imajinasi merasang untuk kerja dan kerja. Seakan Waktu dan ruang di luar berhenti di ruangan ini.Penuh, mampat dan padat, ruangan tempat lahirnya karya-karya komik yang luar biasa salah satunya Trilogy Sandhora yang terkenal itu. Meskipun 20 tahun kemudian untuk terakhir kali aku memasuki ruangan ini ternyata tetap tidak berubah seakan waktu membawa mundur. Seorang anak kecil duduk disebelahnya seorang berusia 45 tahunan memakai kacamata menikmati goresan demi goresan di atas kertas 46 cm x 50 cm dengan pencil atau kuas dan tinta bak dalam proses pembuatan komik “ Mahesa Rani” beliau adalah Teguh Santosa, satu dari tiga tokoh komikus besar Indonesia. Selain Yan Mitaraga, Ganes TH
Sampai sekarang masih membekas…Keirianku akan keasyikannya untuk menciptakan Dunianya sendiri….sangat ispiratif

          Demikian sedikit tentang tulisan novel grafis yang saya ketahui dan banyak kalanya tidak memerlukan logika. Kesimpulan diatas banyak pemikiran subjektif hasilnya pun tetap subjektif kejujuran yang lahir dari penulisan ini juga subjektif
          Saya akhiri …salam

                                                                   Pakisaji 1 Januari 2013
                                                                            
                                                                                                                               WIZHCLOP




Referensi:
Ruang Baca Koran Tempo edisi 23 Februari 2006
Diskusi dengan Keo ( Perupa dan Komikus )

Rabu, 22 Juli 2020

Selasa, 21 Juli 2020

Selasa, 09 Juni 2020

Minggu, 31 Mei 2020